Senja (2)

Senja kemarin bukanlah senja hari ini. Meski tampak serupa, mereka bukan senja yang sama.
Senjaku adalah senjamu, senja bersama. Meski tiap orang mungkin memaknainya secara berbeda, sah-sah saja.
Seperti satuan-satuan hari yang kita jalani secara berbeda, tapi semuanya akan menjadi pengingat bahwa kita pernah sama-sama muda; sebagian meratapi, menyesali, atau berbangga diri. Semuanya menjadi kenangan di usia senja.
Senja datang, bergulir, dan perlahan pergi. Ia bisa menjadi sekadar sebuah repetisi, atau pengingat bahwa waktu yang berlalu takkan pernah terganti. Dan di sepanjang garis waktu ini, betapa limpahan kenikmatan-Nya menanti untuk kita syukuri.
“Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur”. (Qs. al-Furqan: 62)